MERENUNGI NIKMAT KETIKA SAKIT

Hampir dua puluh tahunan yang lalu penulis pernah jatuh dan terkilir di kaki. Beberapa minggu kemudian baru terasa sakit yang hebat, samai tidak bisa berjalan dua minggu lamanya. Kemudian sepuluh tahun lalu penulis jatuh terkilir lagi ketika kerja, lebih parah justru. Otot besar belakang kaki hampir putus terkena pecahan keramik. Enam bulan lamanya penulis tidak bisa berjalan.

Sekarang ini rupanya sedang kumat. Sudah hampir tiga minggu. Kalau lagi puncak sakitnya, berjalanpun tak bisa. Harus ngesot. Namun penulis usahakan tetap tenga rileks sambil ikhtiar. Tetangga sebelah menyebelahpun tak tahu. Karena jika sudah reda rasa sakitnya, penulis keluar rumah, beraktifitas biasa dan tidak menunjukkan rasa sakit.

Dalam masa kesakitan ini ternyata ada nikmat Tuhan yang tersembunyi. Perenungan. Bagaikan bertapa di jalan sunyi. Banyak hikmah yang tersingkap. Salah satunya adalah kesyukuran atas nikmat sehat yang selama ini penulis rasakan. Betapa nikmat sehat itu mahal, mahal sekali. Teringat seorang pasien yang lagi hebat-hebatnya menderita gagal ginjal waktu itu. Dia sampai bilang, andai dia harus kehilanggan harta senilai dua ratus juta ( baginya sudah amaaat banyaaak ) namun bisa sembuh, dia memilih untuk sembuh walau kehilangan harta. Itulah gambaran nikmat sehat.

Dalam masa rehat ini, penulis habiskan baca buku karya Gus Nuhid, putra almarhum kiyai saya dulu. Beliau baru pulang dari Mesir. Sudah lima buku karya beliau. Yang ada di tangan saya ada tiga sebagai hadiah beliau. Buku - buku tersebut adalah : Labirin Tanpa Jalan Keluar ( Penerbit : Cakrawala Pustaka ), Romantisisme Kalam Tuhan ( Penerbit : PT Elex Media Computindo, Kompas Gramedia) dan Seteguk Senja Untuk Pendahaga Agama ( Penerbit : PT Elex Media Computindo, Kompas Gramedia).

Dianatraa ketiga buku tersebut, bagi penulis Labirin Tanpa Jalan Keluar-lah yang paling top markotop. Bukan hanya sastra populernya yang enak dibaca, namun disana juga terpancar ilmu-ilmu bathiniah. Suatu gambaran sisi bathin manusia- anak Adam. Khusus ulasan buku tersebut akan - insya Allah - penulis tulis pada artikel khusu yang lain. Kembali ke laptop : 'menikmati' masa rehat ketika sakit.

Ada banyak pilihan rasa kesyukuran yang bisa diraih. Mungkin ini kehendak-Nya supaya bisa istirahat barang beberapa hari. Atau bisa jadi, supaya bisa menjalani laku perenungan - introspeksi diri - melihat seberapa banyak dosa dan aib yang sudak dibuat. Untuk di-istighfari tentunya. tapi apapun itu, pesan penulis, bagi yang sedang sakit atau musibah lainnya : sabar dan 'nikmati', mungkin ada kebaikkan yang tersembunyi di sana. Tentu tidak meninggalkan berdoa dan berikhtiar.

Demikian, kiranya bermanfaat. Salam, Tiknan Tasmaun.

Artikel Terkait

Last Updated 2018-04-12T18:47:39Z

KOLOM KOMENTAR :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer